Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Wamen Ekraf Dorong Keputusan Inklusif Terkait Rencana Pemasangan Chattra Borobudur

Jumat, 16 Januari 2026 | Januari 16, 2026 WIB Last Updated 2026-01-16T11:59:02Z
Wakil Menteri Ekonomi Kreatif, Irene Umar, menghadiri Rapat Tindak Lanjut Pemasangan Chattra Adaptasi pada Stupa Induk Candi Borobudur di Auditorium H. Rasjidi Kementerian Agama RI, Jakarta. (Sumber: Kemenekraf)

Jakarta, The Indonesian Time - Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) Irene Umar menghadiri Rapat Tindak Lanjut Pemasangan Chattra Adaptasi pada Stupa Induk Candi Borobudur, yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat (Bimas) Buddha, Kementerian Agama RI. Rapat ini menjadi forum koordinasi lintas pemangku kepentingan untuk membahas rencana pemasangan chattra dengan mempertimbangkan keseimbangan antara pelestarian cagar budaya, nilai-nilai keagamaan, serta potensi dampak ekonomi dan sosial bagi masyarakat sekitar.

“Candi Borobudur adalah titipan kepada kita, bukan milik kita sebagai manusia. Tugas kita bersama sekarang adalah memberikan dampak ekonomi dan sosial ril yang bisa dirasakan masyarakat terutama yang tinggal di sekitarnya,” ujar Wamen Ekraf Irene Umar di Auditorium H. Rasjidi Kementerian Agama RI pada Kamis (15/1/2026).

Dalam forum tersebut, berbagai pihak dan perwakilan umat Buddha hadir untuk memberi pandangan terkait rencana pemasangan Chattra di stupa induk Candi Borobudur. Sejumlah langkah strategis disebut telah dilakukan dengan mempertimbangkan aspirasi umat, aspek teknis, serta regulasi yang berlaku.

Wamen Ekraf menekankan pentingnya membangun kesepahaman bersama dalam menyikapi isu strategis yang berkaitan dengan kepentingan nasional. Menurutnya, semangat persatuan perlu menjadi landasan utama dalam setiap proses pengambilan keputusan.

“Mari kita kesampingkan ego masing-masing dan keluar dari ruangan ini dengan satu suara. Apapun kesepakatan akhirnya, itu menjadi simbol kekuatan kita sebagai bangsa. Di tengah dinamika yang terjadi di seluruh dunia, saya harap Indonesia bisa memutuskan sesuatu yang melambangkan persatuan,” pungkas Wamen Ekraf Irene.

Direktur Jenderal Bimas Buddha, Supriyadi, menegaskan, setiap kebijakan terkait pemasangan chattra diambil melalui proses yang matang dan penuh kehati-hatian. Menurutnya, pendekatan yang komprehensif diperlukan agar keputusan yang dihasilkan sejalan dengan aspek administratif, spiritual, serta prinsip pelestarian cagar budaya.

“Kami memastikan setiap tahapan dilalui dengan pertimbangan yang menyeluruh, sehingga keputusan yang diambil tidak hanya tepat secara regulasi, tetapi juga menghormati nilai keagamaan dan keberlanjutan Borobudur sebagai warisan dunia,” ujar Supriyadi.

Pandangan serupa juga disampaikan Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi). Mereka menekankan pentingnya keberadaan chattra sebagai bagian tak terpisahkan dari makna spiritual Candi Borobudur. Menurutnya, aspek simbolik ini memiliki nilai mendalam bagi umat dalam memaknai kesakralan stupa utama.

“Chattra merupakan simbol spiritual tertinggi yang melambangkan kesucian dan perlindungan. Kehadirannya sangat penting untuk menyempurnakan makna spiritual Borobudur, dan kami berharap proses pemasangannya dapat menjadi berkah bagi umat Buddha di seluruh Indonesia,” ujar perwakilan Walubi.

Kehadiran berbagai tokoh dan pemangku kepentingan dalam rapat ini mencerminkan semangat bersama untuk menjaga keseimbangan antara nilai spiritual, pelestarian budaya, dan kepentingan publik. Melalui dialog yang terbuka dan saling menghormati, diharapkan setiap keputusan yang diambil dapat menjadi langkah bijak bagi keberlanjutan Candi Borobudur sebagai warisan dunia dan simbol persatuan bangsa.***
×
Berita Terbaru Update