Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Menteri PPPA: Sinergi Organisasi Keagamaan Kunci Perlindungan Perempuan dan Anak

Sabtu, 28 Februari 2026 | Februari 28, 2026 WIB Last Updated 2026-03-01T13:09:12Z
Menteri PPPA: Sinergi Organisasi Keagamaan Kunci Perlindungan Perempuan dan Anak. (Sumber: Kemen PPPA)

Jakarta, The Indonesian Time - Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi menekankan pentingnya penguatan kolaborasi dengan organisasi keagamaan sebagai mitra strategis dalam melindungi perempuan dan anak dari kekerasan serta memperluas pemberdayaan kelompok rentan. Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah untuk memastikan perempuan Indonesia terlindungi, berdaya, dan memperoleh akses yang setara dalam pembangunan.

“Ini merupakan momen penting bagi Kemen PPPA dalam rangka membangun kolaborasi dan sinergi dengan organisasi keagamaan. Tema “Delapan Dekade Suara dan Karya Persatuan Wanita Kristen Indonesia (PWKI) Kokohkan Citra dan Memberdayakan Perempuan Indonesia” senada dengan visi misi pemerintahan, khususnya Kemen PPPA dalam membangun perempuan Indonesia agar terlindungi dan berdaya,” kata Menteri PPPA dalam acara HUT PWKI di Jakarta (28/2).

Menteri PPPA menekankan bahwa organisasi keagamaan memiliki posisi strategis sebagai garda terdepan dalam pencegahan dan perlindungan perempuan dan anak dari segala bentuk kekerasan. Ia menerangkan bahwa organisasi keagamaan merupakan sandaran yang dipercaya bagi umatnya untuk mencari perlindungan, kasih sayang, serta membawa kebahagiaan.

“Pada momentum yang berbahagia ini, saya berharap PWKI dapat terus menjadi garam dan terang dunia dengan menghadirkan karya nyata dalam perlindungan dan pemberdayaan perempuan. Teruslah hadir memberikan kekuatan dan harapan bagi seluruh perempuan, terutama mereka yang termarjinalkan, perempuan adat, penyandang disabilitas, serta kelompok rentan lainnya,” kata Menteri PPPA.

Ketua DPP PWKI, Deety Treisje Liow Mambo meneguhkan komitmen dalam memberikan perlindungan dan pemberdayaan perempuan melalui dibentuknya crisis center.

“PWKI bertekad membangun crisis center yang telah mulai dilaksanakan sejak bencana di Sumatera, kemudian berlanjut dalam penanganan bencana di Sulawesi Utara dan Jawa Barat. Upaya ini akan terus kami lakukan secara bergulir, karena penanganan kemanusiaan khususnya perempuan dan anak tidak bisa berhenti, melainkan harus terus berlanjut,” kata Deety.

Treisje berharap kolaborasi antara PWKI dan Kemen PPPA yang sudah terjalin akan terus berlanjut guna memberikan pelayanan terbaik bagi umat, perempuan dan anak yang membutuhkan.***
×
Berita Terbaru Update