Sekolah 3T di NTT Rasakan Dampak Langsung Digitalisasi Pembelajaran. (Sumber: Kemendikdasmen)
NTT, The Indonesian Time - Praktik digitalisasi pembelajaran di daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar) Provinsi Nusa Tenggara Timur/NTT membuahkan hasil yang menggembirakan. Menurut pengakuan tenaga pendidik di SMPN Wederok, Kabupaten Malaka, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), capaian hasil pembelajaran murid setelah menggunakan Interactive Flat Panel (IFP) atau Papan Interaktif digital (PID) menunjukkan hasil yang lebih memuaskan dibandingkan sebelumnya.
Theobaldus Banafanu, Guru IPS di SMPN Wederok, Kecamatan Weliman, Kabupaten Malaka, mengatakan, kehadiran super aplikasi Rumah Pendidikan, IFP, dan akses Starlink sejak awal tahun ini, telah memunculkan semangat belajar mengajar pada 139 murid di sekolahnya. Adapun Super Aplikasi Rumah Pendidikan disediakan Pusat Data dan Teknologi Informasi (Pusdatin), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Sementara untuk IFP dan akses internet disediakan Direktorat Sekolah Menengah Pertama, Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah.
“Sebelumnya, buku ajar itu terbatas. Jadi kalau pegang buku, murid tak bisa menyimak dengan baik. Sekarang dengan ada PID sejak Januari 2026 lalu, guru tinggal browsing saja untuk perlihatkan wujud yang dibahas seperti apa. Intinya, kami, guru dan murid. dimudahkan segalanya saat di kelas,” katanya saat diwawancara, Rabu (18/3).
Proses pembelajaran tersebut, berimbas pada hasil ujian mingguan murid yang menurutnya mulai ada kenaikan. Jika sebelumnya rata-rata kelas di kisaran 60, maka sekarang sudah ada pada rerata 75-80. Sebab, murid lebih memahami materi pembelajaran.
Peningkatan kualitas dan sarpras bahan ajar, menurut Theobaldus selaras dengan karakter anak didiknya. Sekalipun berasal dari 3T, dengan mayoritas orang tua mereka adalah petani jagung, padi, dan kopra, namun sebagian besar sudah familiar dengan ponsel pintar.
Theobaldus melanjutkan, sentuhan digitalisasi pada sarana prasarana pembelajaran, membuat murid tak mengantuk dan merasa kesulitan memahami materi. Semisal jika harus ada ice breaking, guru tinggal akses Youtube dan ikuti gerakan bersama. Dulu, cara ini dilakukan manual oleh guru di mana materinya harus diunduh dulu dan setelah itu gerakan dilakukan bersama.
“Kami sangat bangga dengan apa yang diberikan pemerintah ke sekolah di wilayah 3T seperti kami. Murid tidak mengantuk lagi di kelas. Kami guru pun lebih antusias karena tak hanya ajarkan teori di atas kertas tapi juga mudah memperlihatkannya di papan digital,” sambungnya.
Tak ketinggalan, ia juga bercerita tentang antusiasmenya saat mengikuti materi Training of Trainer (ToT) terkait presentasi menggunakan Canva dari dua rekan gurunya. Setelah selesai mengikuti materi, Theobaldus meyakini dapat menerapkan materi tersebut kepada anak didik dengan berbagai situasi di seluruh penjuru tanah air.
"Dengan kehadiran satu PID didukung super aplikasi Rumah Pendidikan dan akses internet Starlink maka utilisasi per papan masih jadi terbatas rata-rata satu kelas sekali per minggu. Tentu harapannya agar sarana-prasarana ke sekolah 3T ini terus diperbanyak jumlahnya," harap dia.
Kepala Pusdatin Kemendikdasmen, Yudhistira Nugraha mengatakan, praktik baik di NTT adalah bukti nyata hasil semangat dari paradigma pembelajaran yang terus berkembang maju dan kekinian dengan mengubah konsep schooling menjadi learning.
“Perubahan mindset ini membuat pembelajaran tidak lagi di ruang kelas tidak lagi terbatas. Pembelajaran dapat berlangsung di mana saja dan kapan saja. Dengan pendekatan learning, proses belajar bisa dilakukan di mana pun dan kapan pun,” jelasnya.
Menurut Kapusdatin, setelah perubahan pola pikir, maka diperlukan kolaborasi berkelanjutan. Sebab, jumlah pengembang teknologi pembelajaran di Indonesia mencapai hampir 3 ribu orang yang tersebar di sejumlah kementerian dan lembaga. Oleh karenanya, ekosistem ini harus saling mengenal dan menguatkan.***
