Wapres dan Mendikdasmen Lepas Alumni Pejuang Digital, Tegaskan Beasiswa Negara Kembali ke Rakyat. (Sumber: Kemendikdasmen)
Jakarta, The Indonesian Time - Sejumlah 150 alumni penerima beasiswa LPDP resmi dilepas oleh Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, untuk bertugas di daerah terpencil, tertinggal, dan terdepan (3T) dalam Program Pengabdian Alumni Pejuang Digital. Kegiatan pelepasan ini berlangsung di Auditorium Kantor Sekretariat Wakil Presiden, Jakarta, Kamis (2/4).
Program yang merupakan hasil kolaborasi Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) bersama Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) bertujuan mempercepat transformasi digital di sekolah dasar wilayah 3T.
Dalam sambutannya, Wakil Presiden menyatakan bahwa teknologi bukan sekadar alat bantu saja, melainkan penentu arah masa depan pendidikan Indonesia. Ia mendorong agar kesenjangan digital di dunia pendidikan segera dijembatani secara nyata.
Wakil Presiden juga menekankan pentingnya inovasi metode pembelajaran, khususnya di wilayah 3T, agar proses belajar lebih efektif dan menyenangkan dengan dukungan teknologi.
“Jika pembelajaran terasa membosankan, kita harus menemukan metode yang lebih menarik. Semua harus bisa dibuat menyenangkan. Apalagi saat ini tersedia Interactive Flat Panel (IFP) dari Bapak Presiden. Saya berharap teman-teman dapat membantu mengenalkan dan mendampingi pemanfaatannya,” tuturnya.
Wakil Presiden juga menyampaikan pesan yang lebih dalam dari sekadar agenda penguatan digital pendidikan, bahwa beasiswa negara bukan hadiah yang berhenti di gedung wisuda. Ketika negara telah berinvestasi pada seseorang, maka saatnya investasi itu dikembalikan, bukan dalam bentuk laporan, melainkan lewat dampak yang bisa dirasakan langsung oleh siswa di daerah yang kadang luput dari perhatian.
Kehadiran para peserta Alumni Pejuang Digital yang merupakan Alumni LPDP di wilayah 3T, menurut Wapres, adalah bagian dari gerakan bersama untuk memastikan pemerataan kualitas pendidikan tidak lagi sekadar jadi slogan.
Direktur Utama LPDP, Sudarto, ikut hadir dalam kegiatan dan memberikan laporan terkait program. Ia memaparkan bahwa lembaganya telah mendukung puluhan ribu penerima beasiswa dari berbagai jenjang pendidikan, dengan komitmen kuat pada perluasan akses, termasuk daerah afirmasi yang kerap tertinggal dalam arus pembangunan.
"Yang terpenting adalah memastikan bahwa para alumni kembali dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat,” tegas Sudarto disambut dengan tepuk tangan meriah para peserta.
Sudarto menegaskan bahwa keberhasilan program beasiswa tidak bisa diukur dari angka lulusan atau indeks prestasi semata. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana kontribusi alumni dalam menjawab permasalahan di lapangan. Program Alumni Pejuang Digital, ia jelaskan, sebagai salah satu wujud nyata dari filosofi itu.
Program ini juga memperluas pola kolaborasi LPDP dengan berbagai instansi, yaitu Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Saat ini program Alumni Pejuang Digital diarahkan secara khusus untuk memperkuat transformasi digital pendidikan melalui Pemanfaatan Interactive Flat Panel (IFP) atau Papan Interaktif Digital (PID).
Kisah Peserta dari Papua Barat ke Tepi Danau Toba
Sesi pelepasan diselingi dialog hangat Wakil Presiden Gibran bersama dua peserta yang membawa cerita dari sudut-sudut berbeda Indonesia.
Teresia Rutisu, salah satu peserta lulusan Swiss Hotel Management School , Swiss, yang berasal dari Papua Barat akan ditugaskan di Merauke. Ia meyakini bahwa teknologi bisa menjadi jembatan untuk menghadirkan pengalaman belajar yang lebih menarik dan relevan bagi siswa di wilayah timur Indonesia melalui penggunaan IFP. Ia juga ingin berbagi pengalaman dan nilai-nilai hidup yang selama ini didapatkan selama belajar di luar negeri kepada para siswa di sana.
"Saya menekankan kata ‘pengabdian’. Saya ingin berbagi pengalaman kepada anak-anak di daerah 3T, karena saya juga berasal dari sana. Saya ingin mereka tidak pernah berhenti bermimpi,” jelasnya.
Sementara itu, peserta lain yang berasal dari Kabupaten Samosir, Sumatera Utara, Gulmog Simbolon, menilai Program Pengabdian Alumni Pejuang Digital sebagai ruang kontribusi nyata dalam pemerataan akses pendidikan. Lulusan University of Surrey, Inggris, ini menjelaskan bahwa dampak kehadiran peserta Alumni Pejuang Digital di sekolah tak hanya mendampingi saja, tetapi juga mampu menggerakkan ekosistem pendidikan yang lebih luas di sekitarnya.
"Perjalanan hidup saya mengajarkan bahwa akses pendidikan yang baik bisa mengubah segalanya. Kini giliran saya membantu membukakan jalan itu bagi anak-anak di daerah 3T,” ungkapnya.
Menanggapi hal tersebut, Wapres mengapresiasi semangat para alumni universitas luar negeri yang memilih kembali ke daerah, seraya menegaskan bahwa kontribusi nyata merupakan bentuk tanggung jawab sekaligus kebanggaan sebagai warga negara.
“Setiap alumni harus bangga menjadi WNI dan mengabdi di kampung halamannya,” tegasnya.
Wakil Presiden menutup acara dengan melepas seluruh peserta secara resmi. Ia berpesan agar para alumni menjaga kesehatan fisik di lapangan, memahami kebutuhan dan kearifan lokal setempat, serta memberikan kontribusi terbaik selama masa penugasan tiga bulan ke depan.***
