Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Beri Kuliah Umum, Menperin Tegaskan SDM Vokasi Jadi Kunci Industrialisasi

Jumat, 17 Juli 2026 | Juli 17, 2026 WIB Last Updated 2026-07-17T15:11:49Z
Beri Kuliah Umum, Menperin Tegaskan SDM Vokasi Jadi Kunci Industrialisasi. (Sumber: Kemenperin)

Bogor, The Indonesian Time - Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan bahwa pembangunan industri manufaktur nasional membutuhkan sumber daya manusia yang tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga berintegritas, adaptif, dan siap menjadi motor penggerak industrialisasi Indonesia. Oleh karena itu, pendidikan vokasi industri harus mampu mencetak analis, teknisi, dan tenaga profesional yang akan menjadi fondasi menuju Indonesia sebagai pusat manufaktur dunia.

Pesan tersebut disampaikan Menperin saat memberikan Studium Generale pada kegiatan Pelepasan Lulusan Serentak Siswa SMK-SMAK dan SMK-SMTI di Lingkungan Kementerian Perindustrian Tahun 2026 di SMK-SMAK Bogor, Kamis (16/7).

Kuliah umum tersebut diikuti secara luring dan daring sebanyak 27 ribu peserta, yang terdiri atas siswa, mahasiswa seluruh unit pendidikan vokasi Kemenperin, serta pegawai Kemenperin dari berbagai satker daerah di Indonesia.

"Indonesia membutuhkan generasi muda yang tidak hanya menguasai teknologi, tetapi juga memiliki karakter dan integritas. Kalian adalah bagian dari generasi yang akan menentukan masa depan industrialisasi nasional. Indonesia Emas 2045 bukan proyek generasi saya, melainkan proyek kalian," kata Agus saat memberikan kuliah umum tersebut.

Menurut Menperin, Studium Generale tersebut bukan sekadar kuliah umum, melainkan momentum untuk membangun optimisme sekaligus memberikan gambaran nyata mengenai peluang besar sektor industri manufaktur Indonesia yang terus berkembang. 

“Para lulusan vokasi industri harus memahami bahwa kompetensi yang mereka miliki akan menjadi modal penting dalam memperkuat daya saing industri nasional,” ujarnya.

Pada kesempatan itu, Menperin juga melepas secara serentak 2.361 lulusan dari sembilan SMK-SMAK dan SMK-SMTI di bawah pembinaan Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) Kemenperin. Para lulusan tersebut dipersiapkan untuk memasuki dunia kerja sebagai analis kimia, teknisi, maupun tenaga profesional industri yang siap mendukung kebutuhan sektor manufaktur nasional.

"Kalian tidak menempuh pendidikan selama bertahun-tahun hanya untuk mendengarkan basa-basi. Hari ini kalian berhenti menjadi siswa dan mulai menjadi tenaga industri Indonesia. Selamat kepada kalian dan para orang tua yang telah mengantarkan hingga titik ini," tutur Agus.

Menperin menjelaskan, lulusan SMK-SMAK maupun SMK-SMTI memiliki peran strategis dalam menjaga kualitas industri nasional. Seorang analis bertanggung jawab memastikan mutu suatu produk sebelum dipasarkan, sedangkan teknisi memastikan proses produksi berjalan secara optimal.

"Jangan pernah merasa kecil. Kalian bukan pelengkap. Kalian adalah salah satu syarat berdirinya industri modern. Seorang analis menentukan apakah suatu produk layak keluar dari pabrik, sedangkan teknisi menjaga agar mesin dan proses produksi tetap berjalan dengan baik. Kalian adalah orang-orang di balik kualitas industri Indonesia," tegasnya.

Dalam kuliah umumnya, Agus juga memaparkan berbagai capaian industri manufaktur Indonesia yang menunjukkan prospek sektor tersebut semakin menjanjikan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada triwulan I tahun 2026 industri pengolahan tumbuh sebesar 5,04 persen, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 4,55 persen.

Kontribusi industri pengolahan terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional mencapai 19,07 persen, menyerap lebih dari 20 juta tenaga kerja, serta menyumbang sekitar 82 persen terhadap total ekspor nasional dengan nilai hampir USD95 miliar pada periode Januari–Mei 2026.

"Artinya sederhana. Bidang yang baru saja memanggil kalian bukan bidang yang sedang menurun. Industri manufaktur hidup, terus tumbuh, dan membutuhkan tangan-tangan baru. Tangan-tangan itu adalah tangan kalian," umgkapnya.

Menperin menambahkan, arah pembangunan industri Indonesia sejalan dengan visi Presiden Prabowo Subianto yang menempatkan industrialisasi dan hilirisasi sebagai strategi utama meningkatkan nilai tambah sumber daya alam sekaligus memperkuat perekonomian nasional.

"Kita tidak boleh hanya menjadi pasar bagi bangsa lain. Kita harus mengolah kekayaan alam kita sendiri, menghasilkan nilai tambah di dalam negeri, dan menciptakan lapangan kerja berkualitas bagi masyarakat Indonesia," ujarnya.

Lebih lanjut, Agus mengingatkan bahwa target Indonesia menjadi negara maju pada 2045 hanya dapat dicapai apabila didukung SDM industri yang unggul. Menurutnya, cita-cita besar tersebut tidak diwujudkan melalui ruang rapat semata, tetapi melalui laboratorium, bengkel, dan lantai produksi tempat para lulusan vokasi industri bekerja.

"Tidak ada hilirisasi tanpa laboratorium. Tidak ada laboratorium tanpa analis. Tidak ada pabrik yang berjalan dengan baik tanpa teknisi yang terampil. Indonesia Emas 2045 akan diwujudkan melalui karya kalian di laboratorium dan di lantai produksi," tegasnya.

Menperin juga memaparkan tingginya tingkat penyerapan lulusan pendidikan vokasi Kemenperin. Dari 5.472 lulusan sekolah vokasi Kemenperin pada tahun 2025, sebanyak 4.009 orang telah bekerja, 156 orang menjadi wirausaha, 704 orang melanjutkan pendidikan, dan 603 orang lainnya sedang dalam proses rekrutmen industri. Selain itu, alumni sekolah vokasi Kemenperin telah bekerja di 21 negara dan direkrut oleh berbagai perusahaan kelas dunia.

Menurut Agus, capaian tersebut membuktikan bahwa kualitas pendidikan vokasi industri Kementerian Perindustrian telah mendapat pengakuan dunia usaha dan dunia industri, baik di dalam maupun luar negeri.

Meski demikian, Menperin mengingatkan bahwa kompetensi harus selalu diiringi dengan integritas. Kepercayaan merupakan modal utama yang harus dijaga oleh setiap lulusan vokasi industri.

"Bagi para analis, angka tidak bisa dinegosiasikan. Jangan pernah menandatangani hasil yang tidak kalian yakini kebenarannya. Menjaga integritas bukan hanya soal moral, tetapi juga melindungi konsumen, menjaga keselamatan pekerja, serta mempertahankan nama baik produk Indonesia di mata dunia," tuturnya.

Menutup kuliah umumnya, Menperin menyampaikan apresiasi kepada seluruh orang tua, guru, tenaga pendidik, dan mitra industri yang telah mendampingi proses pendidikan para lulusan. Ia berharap para lulusan mampu mengabdikan ilmu dan keterampilan yang dimiliki untuk memperkuat daya saing industri nasional.

"Dengan segala rasa bangga, saya nyatakan lulusan SMK-SMAK dan SMK-SMTI Tahun 2026 di lingkungan Kementerian Perindustrian resmi dilepas untuk mengabdi kepada industri dan bangsa Indonesia. Bawalah keterampilan kalian dengan bangga, bawa kejujuran tanpa kompromi, dan jadilah generasi yang membangun Indonesia melalui industri manufaktur," pungkas Agus.***
×
Berita Terbaru Update