Lapas Ciangir Tak Hanya Membina, Tapi Juga Memasok Ratusan Kilogram Telur. (Sumber: Kemenimpas)
Banten, The Indonesian Time - Di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Ciangir, Banten, hari-hari warga binaan tidak hanya diisi dengan menjalani masa pidana. Di antara kandang ayam, kambing, sapi, domba, hamparan sawah, hingga perkebunan, mereka belajar keterampilan baru sekaligus menyiapkan bekal untuk memulai kehidupan yang lebih baik setelah bebas nanti.
Lapas Terbuka Kelas IIB Ciangir mengembangkan berbagai program pembinaan kemandirian melalui peternakan ayam petelur, ayam kampung, sapi, domba, kambing, bebek, perkebunan, dan persawahan. Kegiatan tersebut menjadi salah satu implementasi 15 Program Aksi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan, khususnya dalam mendukung ketahanan pangan melalui optimalisasi sektor pertanian dan peternakan di lapas dan rutan.
Selain menghasilkan komoditas pangan, program ini dirancang untuk membekali warga binaan dengan keterampilan kerja sebagai bekal ketika kembali ke masyarakat.
Kepala Lapas Kelas IIB Ciangir, Soestanto Poedji Djatmiko, mengatakan hasil pembinaan tersebut telah memberikan kontribusi nyata. Produksi telur ayam petelur di Lapas Ciangir kini mencapai sekitar 860 kilogram per hari, yang dipasarkan ke Jakarta dan wilayah sekitarnya, termasuk memasok kebutuhan sejumlah hotel dengan harga mengikuti harga pasar.
Menurut Soestanto, keberhasilan tersebut tidak lepas dari sinergi dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk dinas-dinas terkait yang mendukung pelaksanaan pembinaan kemandirian di Lapas Ciangir.
“Lapas Ciangir merupakan lapas terbuka yang berbeda dengan lapas pada umumnya. Kami membangun pembinaan dengan pendekatan yang humanis. Warga binaan kami anggap sebagai keluarga, sehingga petugas juga dituntut responsif dalam membimbing dan mendampingi mereka,” ujarnya, Kamis (9/7).
Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Banten, Lili, menjelaskan bahwa warga binaan yang mengikuti program pembinaan di Lapas Ciangir merupakan mereka yang telah melalui proses asesmen dan memiliki tingkat risiko yang rendah. Selain memperoleh pengalaman kerja dan keterampilan, mereka juga menerima premi dari hasil kegiatan kerja yang dapat ditabung sebagai bekal setelah bebas.
“Premi inilah yang menjadi penyemangat mereka untuk bekerja. Harapannya, tabungan tersebut bisa bermanfaat ketika kembali ke masyarakat dan menjadi salah satu ikhtiar agar mereka tidak mengulangi kesalahan yang sama,” katanya.
Bagi Mukriji (21), yang saat ini bertugas merawat kambing, pengalaman tersebut menjadi sesuatu yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya. Baru satu bulan berada di Lapas Ciangir, ia kini memahami dasar-dasar budidaya kambing dan berharap dapat mengembangkan keterampilan itu setelah bebas lima bulan mendatang.
“Harapannya nanti setelah keluar saya bisa mengembangkan lagi keterampilan beternak ini,” ungkap Mukriji.
Hal serupa dirasakan Yusuf (26), warga binaan yang selama lima bulan terakhir mengikuti pembinaan di peternakan ayam. Ia mengaku memperoleh banyak pengetahuan baru, mulai dari cara merawat ayam hingga mengenali gejala penyakit pada ternak. Setiap bulan, ia juga menerima premi sekitar Rp800 ribu yang seluruhnya ditabung sebagai bekal saat bebas dua bulan lagi.
“Selama saya di sini banyak hal positif yang saya dapat, terutama tentang peternakan ayam. Saya jadi tahu bagaimana merawat ayam, bagaimana mengenali ayam yang sakit. Nanti setelah pulang saya ingin mengembangkan keterampilan ini,” ujar Yusuf.
Pembinaan kemandirian di Lapas Kelas IIB Ciangir menunjukkan bahwa pemasyarakatan tidak hanya menjadi tempat menjalani pidana, tetapi juga ruang untuk belajar, bertumbuh, dan membangun harapan baru. Dari kandang ternak, sawah, dan perkebunan, warga binaan tidak hanya menghasilkan komoditas pangan yang bermanfaat bagi masyarakat, tetapi juga memupuk disiplin, tanggung jawab, serta keterampilan yang dapat menjadi bekal untuk menata kehidupan yang lebih baik setelah kembali ke tengah masyarakat.***
