Pemerintah Perkuat Ekosistem Hilirisasi Bernilai Tambah Tinggi di Tengah Ketidakpastian Global. (Sumber: Kemenko Perekonomian)
Jakarta, The Indonesian Time - Di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi, Pemerintah terus memperkuat fondasi perekonomian nasional melalui pengembangan ekosistem hilirisasi dan industri bernilai tambah tinggi. Sejumlah indikator risiko eksternal mulai membaik, tercermin dari penurunan Geopolitical Risk Index (GPR) hingga Agustus 2026 dan melandainya Trade Policy Uncertainty (TPU) sejak mencapai puncak pada April 2026. Namun demikian, risiko disrupsi rantai pasok, volatilitas harga komoditas, serta kondisi keuangan global tetap perlu diwaspadai.
“Saya hanya ingin menggaris bawahi bahwa konflik Selat Hormuz itu sangat berpengaruh ke semua negara. Khususnya kita, terutama selain menciptakan ketidakpastian dari sisi geopolitik global, juga pengaruh ke kenaikan harga. Logistic cost-nya naik semuanya. Yang paling penting sebenarnya masalah kepastian bahan baku,” ujar Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso dalam sesi diskusi panel pada acara BIG Downstream Insights 2026 di Jakarta, Selasa (6/10).
Namun, di tengah berbagai tantangan tersebut, kinerja investasi Indonesia tetap menunjukkan perkembangan positif. Realisasi investasi pada Semester I-2026 telah mencapai Rp1.010 triliun, atau hampir 50% dari target tahun 2026 sebesar Rp2.041 triliun. Capaian tersebut menunjukkan bahwa Indonesia tetap menjadi salah satu tujuan investasi yang menarik di tengah perubahan lanskap ekonomi global.
Menurut Sesmenko Susiwijono, dinamika perdagangan global juga membuka peluang bagi Indonesia untuk menarik investasi baru, khususnya ketika investor mencari lokasi produksi alternatif di tengah ketegangan perdagangan dan kebijakan tarif sejumlah negara.
Fundamental ekonomi yang relatif kuat dan pasar domestik yang besar menjadi modal penting bagi Indonesia untuk menangkap peluang tersebut. Pemerintah juga terus memperkuat daya saing investasi melalui peninjauan berbagai skema insentif fiskal. Langkah ini diperlukan seiring perubahan kebijakan perpajakan global, termasuk penerapan Global Minimum Tax sebesar 15% yang dapat memengaruhi efektivitas insentif seperti tax holiday. Penyesuaian kebijakan diharapkan dapat menjaga daya tarik investasi sekaligus tetap sejalan dengan perkembangan standar perpajakan internasional.
Selain insentif, perluasan akses pasar melalui kerja sama perdagangan internasional menjadi instrumen penting untuk meningkatkan daya saing industri nasional sekaligus menarik investasi. Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia telah memperkuat berbagai kerja sama perdagangan melalui skema Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA), Free Trade Agreement (FTA), dan kerja sama ekonomi lainnya.
Ke depan, Pemerintah akan terus memperkuat ekosistem hilirisasi dan industri bernilai tambah tinggi melalui penguatan investasi, insentif yang kompetitif, rantai pasok domestik, serta perluasan akses pasar. Langkah tersebut diharapkan dapat meningkatkan daya saing industri nasional sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi menghadapi gejolak global.
“Ini yang terus kita dorong, sehingga kita mendapatkan dua manfaat sekaligus. Pertama, membuka akses pasar yang lebih luas bagi produk Indonesia, sekaligus membuat Indonesia semakin menarik bagi investor,” pungkas Sesmenko Susiwijono.***
