Wamenkomdigi Nezar Patria saat menerima audiensi pengurus pusat Pewarta Foto Indonesia di Kantor Kementerian Komdigi, Jakarta. (Sumber: Kemenkomdigi)
Jakarta, The Indonesian Time - Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menegaskan karya pewarta foto memiliki nilai sejarah dan kemanusiaan yang tidak dapat digantikan teknologi kecerdasan artifisial (AI), meski perkembangan teknologi digital terus mengubah lanskap industri media dan fotografi jurnalistik.
Dalam audiensi bersama Pewarta Foto Indonesia (PFI), Wamen Nezar mengapresiasi kontribusi pewarta foto dalam merekam berbagai peristiwa penting nasional yang menjadi bagian dari memori kolektif bangsa.
“Pewarta Foto Indonesia saya kira memberikan sumbangsih yang cukup besar bagi kemajuan fotografi jurnalistik di Indonesia. Rekaman gambar yang dihasilkan oleh mata seorang pewarta foto memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi karena merekam satu momen yang tidak bisa diulang lagi,” ujar Wamen Nezar Patria saat menerima audiensi PFI di Kantor Kementerian Komdigi, Jakarta Pusat, Selasa (12/05/2026).
Wamen Nezar menilai kekuatan utama fotografi jurnalistik terletak pada kemampuannya merekam emosi, konteks, dan berbagai elemen penting dalam suatu peristiwa hanya melalui satu gambar.
Menurutnya, foto jurnalistik memiliki daya dokumentasi yang tidak tergantikan karena menangkap momentum sepersekian detik yang tidak dapat diulang kembali.
“Di situ terlibat berbagai hal, mulai dari emosi, semangat, hingga berbagai elemen lain yang terekam dalam satu gambar, dan itu berbicara cukup banyak tentang satu peristiwa. Kalau foto, ada sesuatu yang direkam pada momen sepersekian milidetik yang tidak pernah bisa diulang. Karena itu nilainya sangat tinggi,” tuturnya.
Menurut Wamen Nezar, perkembangan AI memang menghadirkan tantangan baru bagi dunia fotografi dan industri media.
Namun, ia menegaskan karya visual yang dihasilkan manusia tetap memiliki autentisitas, kedalaman emosi, dan nilai dokumentasi yang tidak dapat sepenuhnya direplikasi teknologi sintetis.
“Di tengah teknologi hari ini, ketika foto-foto sintetis bisa diciptakan lewat artificial intelligence, hasil karya manusia dan bidikan seorang pewarta foto saya kira selamanya tidak bisa digantikan oleh AI,” tegas Wamen Nezar.
Wamen Nezar juga mendorong pewarta foto untuk beradaptasi dengan perkembangan teknologi digital, termasuk memanfaatkan AI sebagai instrumen peningkatan kapasitas dan kreativitas.
Ia menyebut AI tetap membutuhkan foto-foto berkualitas hasil karya manusia sebagai basis pembelajaran teknologi tersebut.
“Apakah AI ini menjadi musuh atau kawan, profesi fotografer tetap membutuhkan foto-foto berkualitas karena tidak mungkin menciptakan synthetic reality tanpa data dari foto-foto yang bagus. Kalau ada foto bagus, mesin akan belajar dari situ,” ungkapnya.
Selain penguatan kompetensi digital, Wamen Nezar menilai fotografi jurnalistik masih memiliki peluang besar berkembang melalui pendekatan visual storytelling di berbagai platform digital dan media sosial.
Menurutnya, kekuatan foto autentik tetap memiliki daya tarik yang berbeda dibandingkan visual berbasis AI.
“Storytelling dengan foto yang menarik itu dahsyat banget. Dan itu bukan foto AI. Nilainya beda. Tetap yang dipotret manusia itu lebih punya vibrasi,” kata Wamen Nezar.
Dalam audiensi tersebut, PFI juga menyampaikan berbagai tantangan yang dihadapi pewarta foto, mulai dari disrupsi industri media, gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK), hingga perlunya penguatan kompetensi dan perlindungan kerja bagi pewarta foto di lapangan.
PFI mendorong kolaborasi dengan Kementerian Komunikasi dan Digital dalam penguatan literasi digital, peningkatan kompetensi pewarta foto, hingga penyelenggaraan pameran fotografi jurnalistik di berbagai daerah untuk memperkuat edukasi publik mengenai perbedaan karya autentik dengan visual berbasis AI.***
