Kemenperin dan Dekranasda Jogja Perkuat IKM Kerajinan Tembus Pasar Dunia. (Sumber: Kemenperin)
Yogyakarta, The Indonesian Time - Kementerian Perindustrian terus memperkuat pengembangan industri kecil dan menengah (IKM) melalui berbagai upaya strategis, seperti peningkatan akses pasar, promosi, dan kemitraan. Langkah tersebut penting agar produk IKM tidak hanya semakin unggul dari sisi kualitas dan inovasi, tetapi juga mampu menjangkau pasar yang lebih luas dan berkelanjutan. Salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan Pameran Kerajinan Jogja Istimewa (PKJI) 2026.
Memasuki penyelenggaraan tahun kedelapan, pameran mandiri yang diinisiasi oleh Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tersebut menjadi wadah strategis untuk memperkenalkan potensi dan produk unggulan IKM Yogyakarta kepada masyarakat sekaligus membuka peluang perluasan pasar.
Mengusung tema “Kerajinan Jogja: Harmoni Tradisi dan Inovasi”, PKJI 2026 berlangsung pada 31 Agustus–3 September 2026 di Plasa Industri, Gedung Kementerian Perindustrian, Jakarta. Pameran ini menghadirkan beragam produk kerajinan yang merepresentasikan kekayaan budaya, kreativitas, keterampilan, dan inovasi para perajin serta pelaku IKM Yogyakarta.
Wakil Ketua Harian I Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) Loemongga Agus Gumiwang mengatakan, penyelenggaraan PKJI 2026 merupakan bentuk nyata komitmen bersama dalam menjaga sekaligus mengembangkan kekayaan wastra dan produk kriya Indonesia.
“Selain itu, pameran ini juga bertujuan memperluas pengenalan beragam produk wastra dan kriya kepada masyarakat, sekaligus meningkatkan daya saingnya di pasar nasional hingga pada akhirnya mampu menembus pasar global,” ujar Loemongga pada pembukaan PKJI 2026 di Jakarta, Senin (31/8).
Menurut Loemongga, Dekranas dan Dekranasda bersama pemerintah akan terus memperkuat sinergi dalam mengembangkan industri kerajinan dan wastra nasional. Upaya tersebut antara lain dilakukan dengan menyediakan ruang yang semakin luas bagi para perajin dan pelaku usaha untuk mengembangkan kreativitas dan inovasi serta memperluas akses pasar.
“Dekranas terus berupaya menghadirkan ruang bagi para perajin dan pelaku usaha untuk berkembang, berinovasi, serta memperluas akses pasar melalui berbagai program pembinaan, promosi, dan kemitraan,” tuturnya.
Loemongga menambahkan, berkembangnya tren fesyen berkelanjutan atau slow fashion turut membuka peluang yang semakin besar bagi pengembangan wastra Nusantara. Keunikan, kualitas, penggunaan bahan alami, kekayaan nilai budaya, teknik produksi tradisional, serta keterampilan para perajin merupakan nilai tambah yang membedakan produk kriya Indonesia dari produk yang diproduksi secara massal.
“Wastra Indonesia memiliki keunggulan yang tidak hanya terletak pada keindahan motifnya, tetapi juga pada penggunaan bahan alami, teknik produksi tradisional, serta keterampilan para perajinnya. Nilai-nilai tersebut menjadi daya tarik, baik di pasar dalam negeri maupun mancanegara. Karena itu, mari bersama-sama mengangkat wastra sebagai bagian dari tren fesyen berkelanjutan agar terus relevan dengan perkembangan zaman,” ungkap Loemongga.
Selain memiliki nilai budaya yang tinggi, industri kriya juga memberikan kontribusi terhadap perekonomian nasional. Berdasarkan data Pusat Data dan Informasi Kementerian Perindustrian, nilai ekspor industri kerajinan pada triwulan II 2026 mencapai USD909,95 juta, meningkat 6,54 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Capaian tersebut menunjukkan bahwa produk kriya Indonesia semakin mendapatkan tempat dan apresiasi di pasar global.
Loemongga juga menekankan pentingnya regenerasi perajin sebagai bagian dari upaya menjaga keberlanjutan industri kerajinan nasional. Generasi muda diharapkan tidak hanya memandang wastra dan kriya sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai bagian dari industri kreatif yang memiliki prospek ekonomi dan dapat terus dikembangkan melalui sentuhan inovasi.
“Saya berharap kegiatan ini bukan sekadar pameran, tetapi juga menjadi sarana edukasi dan apresiasi terhadap warisan budaya yang terus hidup, berkembang, dan beradaptasi dengan perkembangan zaman. Dengan demikian, kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan minat generasi muda terhadap wastra dan kriya Nusantara, yang menjadi faktor penting dalam memastikan keberlanjutan warisan budaya dan identitas bangsa di masa mendatang,” ucap Loemongga.
Sementara itu, Ketua Harian Dekranasda DIY GKBRAA Paku Alam mengatakan, tema “Kerajinan Jogja: Harmoni Tradisi dan Inovasi” mencerminkan semangat untuk menjaga kekayaan tradisi dan kearifan lokal Yogyakarta, sekaligus mengajak para perajin terus berinovasi mengikuti perkembangan zaman, selera pasar, teknologi, dan kebutuhan konsumen.
“Jangan takut untuk berinovasi, tetapi tetaplah berpegang pada karakter dan jati diri Yogyakarta. Jadikan kesempatan ini sebagai ruang untuk belajar, membangun jejaring, mendengarkan kebutuhan pasar, dan terus mengembangkan karya,” ujarnya.
Menurut GKBRAA Paku Alam, penyelenggaraan PKJI di Jakarta memiliki arti strategis karena Jakarta merupakan salah satu pusat perdagangan, bisnis, dan jejaring nasional. Kehadiran produk kerajinan Yogyakarta di Jakarta sekaligus menjadi kesempatan bagi para perajin untuk menunjukkan bahwa produk lokal mampu mempertahankan nilai tradisi, namun tetap tampil modern, inovatif, berkualitas, dan kompetitif.
“Lebih jauh, kami ingin menjadikan PKJI sebagai ruang pertemuan antara perajin dengan pasar, buyer, desainer, pelaku usaha, komunitas, pemerintah, serta berbagai mitra strategis. Dengan demikian, akan terbuka peluang kolaborasi yang lebih luas, perluasan pasar, peningkatan kapasitas, serta pengembangan usaha bagi para IKM dan perajin Yogyakarta,” tuturnya.
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian Reni Yanita menyampaikan, sebanyak 52 IKM dan perajin dari lima kabupaten/kota di DIY berpartisipasi dalam PKJI 2026. Beragam produk unggulan yang ditampilkan antara lain batik, lurik, fesyen, kriya, aksesori, kerajinan berbahan alam, serta berbagai produk kreatif lainnya.
“Kekuatan utama IKM kerajinan terletak pada perpaduan antara nilai budaya dan kreativitas yang dapat dikembangkan menjadi produk bernilai tambah. Karena itu, inovasi perlu terus dilakukan tanpa menghilangkan karakter dan identitas produk yang menjadi pembeda,” kata Reni.
Menurutnya, produk kerajinan memiliki karakteristik tersendiri karena tidak sekadar menawarkan fungsi dan estetika, tetapi juga membawa cerita, identitas, serta nilai budaya dari daerah asalnya.
“Kerajinan memiliki keunggulan karena tidak hanya menawarkan produk, tetapi juga membawa cerita, identitas, dan nilai budaya dari daerah asalnya. Keunggulan tersebut perlu dipertahankan dan diterjemahkan melalui desain, kualitas, teknologi, serta inovasi,” ungkap Reni.
Dirjen IKMA menilai, PKJI 2026 menjadi momentum untuk menunjukkan bahwa pelestarian budaya dapat berjalan beriringan dengan pengembangan industri. Berbagai karya yang ditampilkan membuktikan bahwa tradisi dapat terus hidup dan berkembang ketika dipadukan dengan kreativitas serta inovasi yang sesuai dengan kebutuhan zaman.
“Melalui penyelenggaraan PKJI 2026, kami berharap produk-produk unggulan para pelaku usaha dari Yogyakarta semakin dikenal, sekaligus membuka peluang transaksi, kemitraan, dan kolaborasi. Hal ini juga diharapkan dapat mendukung peningkatan kapasitas serta pengembangan usaha para perajin dan pelaku IKM,” tutup Reni.
Selain pameran produk, rangkaian PKJI 2026 juga diisi dengan kegiatan business matching serta beragam workshop terkait industri kerajinan. Kegiatan tersebut diharapkan semakin memperkuat kapasitas para peserta sekaligus membuka peluang perluasan akses pasar bagi IKM kerajinan Yogyakarta.***
