50 Dosen UIN Datokarama Dilatih Jadi Pelopor Moderasi Beragama, Ini Tugasnya. (Sumber: Kemenag)
Palu, The Indonesian Time - Universitas Islam Negeri (UIN) Datokarama memperkuat penerapan nilai-nilai moderasi beragama dalam proses pembelajaran dan pelayanan kampus. Upaya itu dilakukan dengan membekali 50 dosen dan tenaga kependidikan sebagai pelopor moderasi beragama.
Pelaksana Tugas Rektor UIN Datokarama sekaligus Wakil Rektor Bidang Akademik dan Pengembangan Lembaga, Hamka, mengatakan penguatan wawasan moderasi beragama penting karena sivitas akademika hidup di tengah masyarakat yang beragam agama dan budaya.
“Penguatan pemahaman untuk meningkatkan wawasan dosen dan tenaga kependidikan tentang moderasi beragama menjadi hal penting karena kita hidup di masyarakat yang multireligi dan multikultur,” ujar Hamka saat membuka Pelatihan Moderasi Beragama Jenjang Pelopor di Palu, Senin (22/6/2026).
Pelatihan yang diselenggarakan Pusat Moderasi Beragama pada Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UIN Datokarama itu berlangsung pada 22–23 Juni 2026. Kegiatan tersebut diikuti 40 dosen dan 10 tenaga kependidikan.
Hamka menjelaskan, moderasi beragama bukan aliran, kepercayaan, maupun paham tertentu. Moderasi beragama merupakan cara pandang, sikap, dan perilaku beragama yang tidak ekstrem serta mampu menempatkan diri secara adil dan berimbang di tengah perbedaan.
Menurutnya, pemahaman tersebut tidak boleh berhenti pada forum pelatihan. Para dosen diharapkan membawanya ke ruang kelas dan menanamkannya kepada mahasiswa melalui proses pembelajaran yang terbuka, kritis, dan menghargai keberagaman.
"Oleh karena itulah, kami sangat berharap kita sangat berharap bahwa para teman-teman peserta betul-betul bisa mengikuti kegiatan ini dengan serius. Karena pada akhirnya nanti, ini akan dibawa ke ruang-ruang kelas kita masing-masing, menularkan moderasi beragama ini kepada para mahasiswa kita," ujarnya.
Hamka menilai para dosen dan tenaga kependidikan perlu menularkan moderasi beragama kepada mahasiswa dalam proses pembelajaran di kelas. Hal ini untuk membentuk mahasiswa yang moderat.
Penguatan moderasi beragama, lanjut Hamka, juga menjadi bagian dari visi UIN Datokarama yang harus diterapkan secara luas dalam kehidupan kampus.
“Tujuannya untuk memastikan seluruh sivitas akademika memiliki cara pandang, sikap, dan praktik beragama yang ramah, terbuka, serta selaras dengan komitmen kebangsaan,” ujarnya.
Ketua Panitia Pelatihan Ismail Pangeran, mengatakan pelatihan menghadirkan sejumlah tokoh dari kalangan Islam dan agama lainnya untuk memberikan materi kepada para peserta. Kehadiran tokoh lintas agama diharapkan memperluas perspektif dosen dan tenaga kependidikan dalam memahami serta mengelola keberagaman.
Menurut Ismail, pelatihan tersebut menjadi modal penting untuk mengintegrasikan nilai-nilai moderasi beragama ke dalam kurikulum dan proses belajar-mengajar.
“Ruang kelas tidak boleh menjadi tempat doktrinasi yang kaku, melainkan ruang diskusi yang menghidupkan nalar kritis yang santun,” ungkapnya.
Selain dalam pembelajaran, kata Ismail, nilai-nilai moderasi beragama juga perlu tercermin dalam pelayanan publik di lingkungan kampus. Pelayanan yang inklusif akan membuat setiap warga kampus merasa dihargai tanpa memandang latar belakang agama, budaya, maupun sosial.
“Dengan lahirnya para Pelopor Moderasi Beragama ini, UIN Datokarama Palu tidak hanya melahirkan sarjana yang cerdas secara intelektual, tetapi juga agen-agen perdamaian yang siap merajut harmoni di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk,” pungkasnya.***
